Sabtu, 10 Oktober 2020

KEBERHASILAN PENDIDIK DALAM MEMBIMBING PESERTA DIDIK


 by. Soga Biliyan Jaya,S.Pd.
Mr. Smartguru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat Islam adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti dilembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga dimesjid, disurau/mushala, di rumah dan sebagainya.[1]

IGI dan Sagusablog. Guru atau pendidik berarti juga orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu mandari dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah swt., dan mampu melakukan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu yang mandiri.

Guru sebagai sebagai pelaku utama dalam implemetasi atau penerapan program pendidikan di sekolah memiliki peranan yang sangat strategis dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Dalam hal ini guru dipandang sebagai faktor determinan terhadap pencapaian mutu belajar peserta didik.[2]

Tugas Guru Sebagai Pendidik

Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan metatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar adalah meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa. Tugas guru dalam bidang kemanusian meliputi bahwa guru di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua, ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola siswanya. Pelajaran apapun yang diberikannya, hendaknya menjadikan motivasi bagi siswanya dalam belajar. Bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertamanya adalah ia tidak dapat menanamkan benih pengajarannya itu kepada siswanya.

Tugas dan peran guru tidaklah terbatas di dalam masyarakat, bahkan guru pada hakikatnya merupakan komponen strategis yang memiliki peran penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Bahkan keberadaan guru merupakan faktor condisio sine quanon yang tidak mungkin digantikan oleh komponen mana pun dalam kehidupan bangsa sejak dulu, terlebih lagi pada era kontemporer ini.

Semakin akuratnya guru melaksanakan fungsinya, semakin terjamin terciptanya dan terbinanya kesiapan dan kaandalan orang/siswa sebagai manusia pembangunan. Dengan kata lain, potert wajah diri bangsa di masa depan tercermin dari potret diri guru masa kini, dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding lurus dengan citra guru di tengah-tengah masyarakat. Guru menduduki tempat terhormat dalam kehidupan msyarakat, yakni didepan memberi suri teladan, di tengah-tengah membangun, dan di belakang memberikan dorongan dan motivasi (Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani).[3]

MENDIDIK

Meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai khidup

MENGAJAR

Meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi

MELATIH

Mengembangkan keterampillan dan penerapannya

Bagan 1: Tugas Guru Profesional

Peranan dan kompetemsi guru tidak hanya meliputi 3 (tiga) tugas diatas, seiring dengan perkembangan zaman yang terus maju dan adanya tuntutan zaman tugas/peran guru meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukan oleh Adams & Decey dalam Basic Principles Of Student Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas,pembimbing, pengatur lingkungan, participan, ekspeditor, perencana, supervisi, motivator, penanya, evaluator, dan konselor. Namun ada peranan yang dianggap paling dominan diantaranya demonstrator (pengajar), pengolahan kelas (learning meneger), mediator dan fasilitator, dan evaluator.

Guru Sebagai Pembimbing

Guru dapat diartikan sebagai pembimbing perjalanan (journey), yang berdasarkan pengetahuan dan pengalaman bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Istilah perjalanan ini tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral,  dan spiritual yang lebih dalam dan komplek. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan yang jelas, menetapkan waktu perjalanan, serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik.

Berdasarkan ilustrasi diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagai pembimbing perjalanan, guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakan empat hal berikut.

Pertama, guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. Tugas guru adalah menetapkan apa yang dimiliki oleh peserta didik sehubungan dengan latar belakang dan kemampuannya, serta kompetensi apa yang mereka perlukan untuk dipelajari dalam mencapai tujuan.

Kedua, guru harus melihat ketertiban peserta didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu hanya secara jasmani, tetapi harus terlibat secara psikologi. Dengan kata lain, peserta didik harus dibimbing untuk mendapatkan pengalaman dan membentuk kompetensi yang akan mengantar mereka mencapai tujuan.

Ketiga, guru harus memaknai kegiatan belajar. Hal ini mungkin merupakan tugas yang paling sukar tetapi penting, karena guru harus memberikan kehidupan dan arti terhadap kegiatan belajar. Bisa jadi pembelajaran direncanakan dengan baik, dilaksanakan dengan tuntas dan rinci, tetapi kurang relevan, kurang hidup bermakna, kurang menantang rasa ingin tahu, dan kurang imajinatif.

Keempat, guru harus melaksanakan penilaian. Dalam hal ini diharapkan guru dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: bagaimana keadaan peserta didik dalam pembelajaran?bagaimana peserta didik membentuk kompetensi? Bagaiaman peserta didik mencapai tujuan?jika berhasil, mengapa, dan jika tidak mengapa?apa yang dilakukan dimasa mendatang agar pembelajaran menjadi sebuah perjalan yang lebih baik?apakah peserta peserta didik melibatkan dalam menilai kemajuan dan keberhasilan sehingga mereka dapat mengarahkan dirinya (self-directing)?. Seluruh aspek pertanyaan tersebut merupkan kegiatan penilaian yang harus dilakukan guru terhadap kegiatan pembelajaran,yang hasilnya dapat dan sangat bermanfaat terutama untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.[4]

Dari penjelasan diatas, kami menarik kesimpulan bahwa untuk harus menjadi guru sebagai pembimbing harus memilki 4 (empat) kriteria/kompetensi yang harus ada pada diri seorang pendidik yaitu: Merencanakan tujuan dan kompetensi yang hendak dicapai, Melihat ketertiban peserta didik dalam pembelajaran secara jasmani dan psikologi, Memaknai kegiatan belajar, Melaksanakan penilaian.  

Kedudukan dan Indikator Keberhasilan Pendidikan

Pendidikan merupakan aset yang tak ternilai bagi individu dan  masyarakat. Pendidikan merupakan proses ynag esensial/urgen untuk mencapau tujuan dan cita-cita  pribadi individu. Secara filosofis dan historis pendidikan mengambarkan suatu proses yang melibatkan berbagai faktor dalam upaya mencapai kehidupan yang bermakna, baik bagi individu sendiri maupun masyarakat pada umumnya. Bagi kita bangsa Indonesia, kontribusi pendidikan yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik termaktub dalam Undang-undang No.20 tahun 2003 Bab II pasal 3 yang berbunyi sebagai berikut.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dab berwatak kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklah mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.(UUD No.20 tahun 2003, Bab II pasal 3)

Islam memandang bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap orang (education for all), laki-laki atau perempuan, dan berlangsung sepanjang hayat (long life education).[5]

Indikasi keberhasilan pendidikan bisa terlihat dan dirasakan apabila  melalui 4 (empat) tahapan pembelajaran, yaitu, Good listening, Can tell it again, Can be evaluated, Can be have. Dan semua iru dimulai, pertama-pertama, dari guru tebih dahulu, yaitu kemudian duturkan kepada murid-murid. Dengan kata lain guru memegang peran sental dalam pendidikan, mari kta uraikan emapat tahapan indikator keberhasilan pendidikan karakter:

Good listening

Allah memberikan pendengaran sebagai perangkat diri yang luar biasa. Mendegarkan adalah aktivitas yang menyertakan seluruh kemampuan. Kita sering mendegar ungkapan bijak, “undzur maa qaala wa laa tandzur manqaala.” Artinya “ pandanglah apa yang dibicarakan, dan jangan pandang siapa yang berbicara.” Kita diminta untuk melihat subtansi (isi) pembicaran, bukan siapa yang menyampaikan pembicaraan itu. Begitu juga dalam proses bembelajaran. Persyaratan utama dan paling penting adalah bagaimana sikap kita dalam memperhatikan serta mendegarkan  pelajaran yang disampaikan, agar kita dapat lebih cepat mencermati. Disebut dalam al-qur’an, yang artinya:

“dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat.”(QS. Al-A’raf 7 :204)  

Kesiapan sikap untuk mengerkan dan meperhatikan dengan sebaik-baikny setiap pembelajaran akan berberdampak pada pertambahnya pemahaman untuk berubahannya prilaku yang semakin baik pula.

Can tell it again

Artinya dapat mengulang atau menceritakan kembali hasil proses pembelajaran yang telah dilakukan, inilah tanda kalau proses tranfer pengetahuan itu berjalan sesuai dengan yang seharusnya.proses kedua ini tidak mudah  dilakukan dan diperlukan kesungguhan hati. Karena untuk mengulang dan menjelaskan kembali pembelajaran yang telah lalu, tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Hanya orang yang mendegarkan dan meperhatikan dengan baik dan susngguh-sungguh yang mampu mengulang dan menjelaskan poin-poin penting yang terkandung di dalam pembelajaran yang diterima. Dalam Al-qur’an Allah berfirman, yang artinya:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang lain yang menyeru kepada Allah SWT, mengerjakan amal shaleh dan berkata,”sesungguhnya, aku termasuk orang-orang muslim yeng berserah diri”(QS. Fussilat 41:33)

Sekali lagi, proses mencerikatan kembali bukan perkara yang gampang, karena aktivitas ini membeutuhhkan kesabaran, ketelatenan dan kesecermatan ketika mendegar.  Agar muurid dapat menceritakan kembali dengan baik, maka guru harus: menguasihi materi, menyampaikan materi dengan jelas, tidak bosan mengulang penjelasa, menyampaikan materi dengan gembira dan senag hati, sabar dan perhatian.

Can be avaluated

Sebuah sebagai metode, proses belajar-mengajar harus dapat dievalusi. Artinya proses pendidikan juga dapat dinilai atau diberi penilaian evaluasi diamksudkan utuk mengetahui apakah target yang di rancangkan sudah tercapai, atau apakah hasil yang dicapai itu bisa terus dipertahankan, bahkan kalau mungkin ditingkatkan. Evalusi adalah salah satu cara yang paling mudah digunakan dan efektif untuk mengatahui apakah yang diajarkan guru benar-benar bisa diterima oleh para murid. Alla berfirman dalam Al-qur’an, yang artinya:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mangatakan “kami telah beriman” dan mereka belum diuji?”(QS. Al-‘Ankabut 29:2)

Dalam ayat tersebut allah menegaskan bahwa sesunguhnya orang yang mengatakan dirinya beriman harus diuji keimanannya. Ujian Allah tersebut termasuk pula dalam dunia pendidikan. Evaluasi atau ujian dan sejenisnya menjadi media untuk menguji karakter keimanan, kejujuran, kemandirian, kesabaran, dan nilai karakter lainnya.

Can be have

Can be have maksudnya dapat dimiliki dan  dirasakan, yang dibuktikan dengan kemapuan mengendalikan kualitas karakter dalam ujian demi ujian, cobaan demi cobaan. Dan kedepannya semakin paham dan dapat memperbaiki prilaku di hadapan Allah. Inilah puncak-puncak kesuksesan pendidikan karakter, dari mendegarkan, menjelaskan, dan mengahdapi ujian, yang harus dimiliki oleh setiap guru dan siswa. Allah berfirman yang artinya:

“dan orang-orang yang berkata, “ya tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan kami keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. Al-Furqan 25:74)

Sesungguhnya kesuksesan seseorang ukurannya adalah ketika berhasil menjadikan dirinya sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. Bila guru manjadi model atau contoh pendengar yang baik, maka dia akan bisa “mencetak” murid-murid yang juga pendengar yang baik. Dan murid yang menjadi pendengar yang baik, mmaksudnya bila murid dapat menceritakan kembali apa yang dia dengar dan dia pahami bearti secara evaluatif gurunya benar dan berhasil.[6]

Dapat kami tarik kesimpulan, pendidikan menepatkan pada posisi yang urgen serta strategis dalam perkembangan pembaharuan dan kemajuan bangsa. Hasil dari pendidikan itu sendiri (yang berupa nilai-nilai kebaikan itu) menjadi prilaku (behavior) murid, maka sebenarnya yang diuntungkan bukan hanya murid, tetapi juga orang lain, lingkunagn sosial, bahakan guru dan almamater tempat murid pernah menimbah ilmu.

Membimbing Peserta Didik yang Lambat

Slow learning atau lambat belajar merupakan salah astu bentuk kesulitan belajar. Dalam hal ini peserta didik mengalami kelambatan dalam hal menganalisis apa yang  dipelajari, memahami isi pembelajaran, sulit membentuk kompetensi, danmencapai kompetensi tujuan pembelajaran yang diharapkan. Slow learning menunjukan pada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akibat kelambatan dalam perkembangan, terutama perkembangan mental (inteligensi), dan kelembatan dalam pertumbuhan jasmaninya.

Untuk mengetahui status status peserta didik yang memiliki IQ tertentu, maka perlu diketahui kriteria yang digunakan untuk mengkalrifikasi inteligensi. Dalam hal ini digunakan kriteria sebagai berikut:

Tingakat  IQ  kelompok

Anak-anak yang digolongkan lambat belajar (slow learning) adalah mereka yang memilki IQ antara 70 samapai 90, yakni yang termasuk klarifikasi kurang pandai.

Ciri-ciri peserta didik yang lamban belajar

1.      Peserta didik yang tergolong lamban belajar akan menampakan gejala-gejala yang menjadi ciri-ciri sebagai berikut:

2.      Lamban, menerima dan menganalisis, lamban berkerja, memahami bacaan, serta memecahkan masalah;

3.      Kurang mampu, dalam hal benkonsentrasi, berkomunikasi, kurang aktif, dan muda lupa (susah ingat mudah lupa);

4.      Tidak berprestasi, prestasi akademinya rendah dan ahsil kerjanya tidak memuaskan;

5.      Motoriknya lamban, lamban dalam belajar berjalan, belajar berbicara, serta gerak ototnya kendor, dan tidak lincah;

6.      Prilakunya negatif, sering prilaku yangg kurang baik, kebiasaan jelek, dan tidak produktif.

 

Usaha usaha membimbing

Sesuai dengan ciri yang dimiliki peserta didik lamaban belajar, maka bimbingan yang diberikan dapat diidentifikasisebagai  berikut:

1.      Pemberian informasi tentang cara-cara belajar yang efektif, baik cara belajar dirumah atau di sekolah;

2.      Bantuan penempatan (plecement), yakni menempatkan peserta didika dalam kelompok kegiatan yang sesui, seperti kelompok belajar, diskusi, dan kelompok kerja. Bantuan ini berfungsi sebagai perbaikan terhadap masalah dan kesulitan sosial yang dialami peserta didik;

3.      Mengadakan pertemuan denga orang tua untuk melakukan konsultasi, mediskusikan kesulitan peserat didik, dan memberikan dorongan/motivasi peserta didik, dan memperlakukan perhatian kepada peserta didik;

4.      Meberikan pembelajaran remidi (remedial teaching);

5.      Menyajikan pembelajaran secara konkrit dan aktual, yakni mengguakan berbagai variasi media dan metode pembelajaran;

6.      Memberikan layanan konseling peserat didik yang mengalami kesulitan emosional dan hambatan lainnya;

7.      Memberikan perhatian khusus kepada eserta  didik  yang lamban, dan berusaha untuk membangkitakan motivasi  dan kreativitas belajar, misalnya hadiah atau pujian.



[1]Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Cet. 02 (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 40

[2]Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Cet.06. Jakarta: Kalam Mulia, 2010), hlm. 65

[3]Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Cet. 04 (Bandung: Remaja Rosdakarya. 1992), hlm. 04-05

[4] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (cet.04. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2006), hlm. 40-42.

[5]Abuddin Nata, Metodelogi Studi Islam , (Cet.20. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2013), hlm 87-88.

[6]Hamka Abdul Aziz, Karakter Guru Profesional, (cet. 01. Jakarta Selatan: Al-Mawardi Prima. 2012), hlm 118-130.

0 komentar:

Posting Komentar